Kisah Mayor Arh. Alse Ariyanto (TN 12), Wakil Komandan Batalyon Komposit I/Gardapati

Kisah Mayor Arh. Alse Ariyanto (TN 12), Wakil Komandan Batalyon Komposit I/Gardapati

Oct 05, 2019By admin SMATN

Berjauhan dari Keluarga demi Menjaga Indonesia

 

 

 

 

 

Kamis, 23 Juni 2016 silam, Presiden Joko Widodo memimpin rapat kabinet di atas Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Imam Bonjol yang berlayar di perairan Natuna, Kepulauan Riau. Foto Presiden mengenakan jaket bomber di depan peluncur roket antikapal selam KRI Imam Bonjol menghiasi media lokal dan internasional.

Foto-foto tersebut dilengkapi judul tentang sinyal ketegasan Presiden Joko Widodo terhadap China yang sempat mengklaim sebagian perairan Natuna sebagai bagian dari wilayah penangkapan ikan tradisional mereka. Kebetulan beberapa hari sebelum Presiden menggelar rapat kabinet di atas KRI Imam Bonjol, kapal perang ini menangkap kapal ikan China. Penangkapan ini sempat dibayangi insiden provokasi oleh kapal penjaga pantai China yang menganggap kapal nelayan mereka tak melanggar wilayah kedaulatan Indonesia.

Tak hanya soal insiden kapal ikan negara asing yang mencuri ikan di wilayah perairan Natuna, eskalasi konflik sejumlah negara di Laut China Selatan yang berada persis di utara Natuna membuat Indonesia juga ikut bersiaga. Sengketa kedaulatan di Laut China Selatan antara China dan Vietnam, Filipina, Thailand, dan Malaysia, membuat pemerintah memutuskan agar TNI membangun satuan terintegrasi di Natuna.

 

Satuan tersebut terdiri atas kekuatan matra darat, yaitu Batalyon Komposit yang diperkuat Kompi Zeni Tempur Baterai Rudal Artileri Pertahanan Udara dan Baterai Artileri Medan. Sementara matra laut, selain dilengkapi dengan fasilitas labuh dengan kedalaman belasan meter untuk mendukung operasional kapal-kapal perang, juga ada Kompi Komposit Marinir. Untuk matra udara, selain radar pasif di utara dan radar di selatan, juga ada pangkalan udara yang dilengkapi hanggar integratif dan hanggar untuk Skuadron Unmanned Aerial Vehicle (UAV) (Kompas, 6/1).

Dengan satuan terintegrasi, sekarang setiap tentara berpeluang bertugas menjaga wilayah terdepan Indonesia yang rawan eskalasi konflik, Natuna. Tugas ini tak jarang menjauhkan mereka dari keluarga. Inilah sekelumit kisah mereka yang berjauhan dengan keluarga demi pengabdian dan tugas negara.

Natuna adalah pulau terdepan Indonesia yang berjarak  562 kilometer dari Tanjung Pinang, ibu kota Kepulauan Riau. Untuk sampai ke Natuna, penerbangan dan transportasi laut menjadi andalan. Secara geografis, laut Natuna berbatasan langsung dengan Laut China Selatan, Vietnam, Kamboja, dan Malaysia.

Tidak semua kawasan di daratan Natuna mendapatkan sinyal internet dan aliran listrik. Tidak semua wilayah pula sudah beraspal.

Contohnya adalah Kampung Segeram yang pernah tersentuh TNI Manunggal Masuk Desa dengan tahun anggaran 2017. Sentuhan itu berupa pelebaran jalan tanah menjadi sekitar 2 meter yang cukup dilalui untuk satu mobil saja.

KOMPAS/M PASCHALIA JUDITH J

Kondisi jembatan yang menjadi akses darat satu-satunya bagi pengendara mobil ke pusat Kampung Segeram, Sedanau, Bunguran Barat, Natuna, Kepulauan Riau, Senin (23/9/2019)

Jalan tanah yang berpadu dengan medan berpasir itu merupakan satu-satunya akses darat ke Kampung Segeram, wilayah yang juga tak mendapatkan aliran listrik maupun sinyal komunikasi. Kanan-kiri jalan tersebut berupa hutan. Tak ada penerangan sama sekali di sana.

Pada April 2017, perintah mendadak untuk pindah ke Natuna, Kepulauan Riau, diterima oleh Wakil Komandan Batalyon Komposit 1-Gardapati (Mayor Arh) Alse Ariyanto sekitar pukul 19.30. Perintah itu diterimanya melalui pesan Whatsapp saat dia tengah berada di Malang, Jawa Timur. Kurang dari 12 jam, dia harus menyiapkan kepindahannya dan mesti berada di Medan, Sumatera Utara, pada keesokan paginya. Medan menjadi titik berangkatnya ke Natuna.

KOMPAS/M PASCHALIA JUDITH J

Gapura selamat datang yang menyambut pendatang di Kampung Segeram, Sedanau, Bunguran Barat, Natuna.

Sesampainya di Natuna, dia baru mau mengetahui istrinya tengah mengandung putra ketiga. Istri saya sengaja baru memberitahu begitu saya sudah di Natuna. Dia tidak ingin menambah pikiran saya di tengah kepindahan ini,” katanya saat ditemui di Natuna, Minggu (22/9/2019).

Hubungan jarak jauh alias LDR antara Natuna-Malang pun menghampiri rumah tangga Alse. Dia bercerita, awal kedatangannya ke Natuna ”disambut” oleh ketiadaan sinyal telepon untuk berkomunikasi.

Istri saya sengaja baru memberitahu begitu saya sudah di Natuna. Dia tidak ingin menambah pikiran saya di tengah kepindahan ini.

Alhasil, Alse mesti bersahabat dengan perjalanan 20-30 menit untuk pergi ke pusat kota pada malam hari yang berjarak sekitar 15 kilometer (km). Di sana, dia bisa mendapatkan sinyal untuk bercakap dengan istri dan anak-anaknya. Mendengarkan suara mereka melalui telepon genggam menjadi kenikmatan tiada tara.

 

Sayangnya, nikmat itu tak bisa dirasakan setiap hari. Pada saat itu, listrik padam setiap Rabu, Sabtu, dan Minggu. Akibatnya, sinyal telepon pun ikut ”beristirahat”.

Masa LDR itu berakhir kala pergantian tahun ajaran baru. Dengan Hercules, istri dan kedua putra Alse terbang ke Natuna. Perjalanan bermula dari Surabaya pukul 21.00. Penerbangan itu tak langsung ke Natuna. Mereka mampir dahulu ke Jakarta, Pekanbaru, Dumai, Medan, Tanjung Pinang, dan berakhir di Natuna.

 

 

Perjalanan itu memakan waktu sekitar 18 jam secara total. Saat itu, istri Alse yang tengah hamil dengan usia kandungan 11 minggu sebenarnya dilarang terbang oleh dokter. Namun, Alse tetap memboyongnya ke Natuna sambil berserah pada Tuhan.

 

KOMPAS/M PASCHALIA JUDITH J

Seorang petugas menavigasi mobil rombongannya yang melalui jembatan kayu dari pusat Kampung Segeram, Sedanau, Bunguran Barat, Natuna, Kepulauan Riau, Selasa (24/9/2019).

 

Putra ketiga Alse lahir dengan proses persalinan yang lancar, hanya 5 menit. Menurut dia, kelahiran yang mudah itu merupakan anugerah dari Tuhan. Berkat kewajibannya dalam mengabdi, ketiga putranya lahir di tiga pulau berbeda. Putra pertama lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, dan putra keduanya di Bontang, Kalimantan Timur.

 

Alse berpendapat, keluarganya dapat melalui masa LDR karena sejak sebelum menikah dia telah membuat istrinya memahami kewajibannya sebagai anggota TNI yang siap ditempatkan di mana saja. ”Saya bilang ke istri saya, menjadi pendamping tentara itu mesti siap ditinggal untuk menjanda. Ini sudah menjadi risiko pengabdian kepada negara,” katanya.

 

Berjauhan, menyembuhkan
Nasib LDR tengah dialami Letnan Satu CKM dr Randy Pratama, salah satu dokter di Batalyon Komposit 1-Gardapati. Sebagai dokter tentara, dia bertugas melayani kesehatan sekitar 600 anggota beserta keluarganya yang tersebar di enam titik di Natuna.

 

Saya bilang ke istri saya, menjadi pendamping tentara itu mesti siap ditinggal untuk menjanda. Ini sudah menjadi risiko pengabdian kepada negara.

 

Tak hanya melayani kesehatan, Randy juga mesti hadir ketika anggota tengah latihan militer. Berpergian dari ujung ke ujung titik di Natuna pun sudah menjadi makanan sehari-hari sejak Juni 2019.

 

ANTARA/DISPEN KOARMABAR

Kapal Coast Guard China 3303 melintas di dekat KRI Imam Bonjol (383) saat mencoba menangkap kapal nelayan Han Tan Cou 19038 yang memasuki perairan Indonesia di Natuna, Kepulauan Riau, Jumat (17/6/2016). TNI Angkatan Laut menangkap kapal Han Tan Cou 19038 berbendera China karena terdeteksi sedang menebar jala di perairan Indonesia.

 

Imbasnya, Randy mesti berjauhan dengan istri dan seorang anak yang saat ini berada di Jakarta. Sang istri kini tengah mengandung anak kedua.

 

Randy sengaja tidak membawa istri ke Natuna demi alasan kesehatan. Menurut dia, istrinya bisa mendapatkan akses kesehatan yang lebih optimal di Jakarta selama masa kehamilan.

 

 

Berjauhan dengan istri menjadi hal yang biasa bagi Randy demi bertugas atas nama pengabdian pada negara. ”Saya pernah meninggalkannya untuk bertugas di Papua selama setahun. Lama-lama dia terbiasa sedih. Yang saya soroti adalah hubungan saya dengan anak. Saya tidak mau anak saya tak tahu tentang saya kalau terlalu lama tidak tatap muka. Syukurlah, ada teknologi dan sinyal telepon di sini kian membaik. Saya bisa melakukan panggilan video di sini dengan keluarga di Jakarta,” tuturnya.

 

Memboyong keluarga
Begitu mendapatkan tugas untuk pindah ke Natuna pada Agustus 2019, Komandan Batalyon Komposit 1-Gardapati Letnan Kolonel Infanteri Rahmat tak ragu untuk memboyong anak-istrinya satu bulan kemudian. ”Ada beberapa urusan yang membuat saya pusing jika tidak ada istri. Menurut saya, istri saya mesti mendampingi saya di mana pun saya ditugaskan,” katanya.

 

 

 

Rahmat juga tak kesulitan untuk memindahkan anak-anaknya ke Natuna. Dia sering menunjukkan foto-foto tempat wisata di Natuna dan pantai berpasir putih yang ada di pulau terluar Indonesia ini. Dia pun mengiming-imingi anak-anaknya dengan kesempatan bermain jetski di laut Natuna.

 

Dalam menjaga Natuna, Rahmat menceritakan, pihaknya mengadakan latihan rutin untuk berjaga-jaga dan bersiaga karena ancaman kedaulatan dapat terjadi kapan saja. Tentara juga bekerja sama dengan intel dalam mengawasi aktivitas di perbatasan, terutama di wilayah laut.

 

Kini, Natuna tengah menjadi sorotan China karena dinilai masih menjadi bagian dari Laut China Selatan. Pada 2017, China pernah melayangkan protes ketika Indonesia menamai kawasan zona ekonomi eksklusifnya sebagai laut Natuna Utara (Kompas, 3/6/2019).

 

Berjauhan dengan keluarga demi bertugas menjaga wilayah perbatasan Indonesia bukan suatu tantangan yang tidak dapat diatasi. Toh cinta dan kesetiaan pada keluarga dapat beriringan dengan pengabdian pada negara.

Oleh MARIA PASCHALIA JUDITH JUSTIARI https://bebas.kompas.id/baca/utama/2019/10/04/berjauhan-demi-menjaga-tapal-batas-nusantara-dari-dekat

Related post

0 komentar

  • No Comment

Tinggalkan komentar

Top