Iptu Fauzi Pratama (TN 19), Ujung Tombak Penanganan Kasus Kejahatan Perempuan dan Anak

Iptu Fauzi Pratama (TN 19), Ujung Tombak Penanganan Kasus Kejahatan Perempuan dan Anak

Aug 22, 2020By admin SMATN

Kasus tidak biasa langsung menyambutnya saat bertugas di Surabaya. Unit yang dipimpinnya mendapat laporan tindakan asusila terhadap anak berusia 13 ta-hun. Korbannya belum lama melahirkan bayi laki-laki.

Ironis. Laporan yang masuk menyebut bahwa bocah itu merupakan korban dari perbuatan bejat kakak kandungnya. Kakak bejat tersebut kabur dari rumah beberapa pekan sebelum korban bersalin.

Fauzi dan tim tidak butuh waktu lama untuk mengungkap kasus itu. Berbekal informasi dari orang sekitar, pelaku ditangkap. Fakta mengejutkan lain muncul. ”Usia pelaku juga di bawah umur,” jelasnya. ”Baru 15 tahun,” sambungnya.

Hati kecilnya sebagai manusia merasa campur aduk. Miris dan geram menjadi satu. Terlebih, pengakuan pelaku membuatnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia menyebut pencabulan dilakukan hampir dua tahun. Dalam sepekan korban bisa lebih dari satu kali disetubuhi.

Fauzi menjelaskan bahwa pelaku bisa leluasa melancarkan perbuatan jahanam itu karena didukung situasi. Dia dan adiknya tidur di satu kamar yang sama. ”Keluarganya dari orang biasa. Karena rumah kecil, pelaku dan korban dijadikan satu kamar,” terangnya.

Kasus memilukan itu menjadi satu di antara banyak perkara yang membekas di benaknya sejak bertugas di Kota Pahlawan. Dia merasa tertantang menangani kasus yang tidak biasa. ”Menangani sebuah perkara tidak hanya soal menangkap tersangka. Tetapi, juga menganalisis faktor penyebab dan menemukan solusi,” ucapnya.

PERWIRA MUDA: Presiden RI Joko Widodo melantik Fauzi Pratama sebagai lulusan terbaik Akpol 2015. (Fauzi Pratama for Jawa Pos)

Dalam

Dalam kasus itu, kata dia, faktor penyebab tidak jauh beda dengan kasus serupa pada umumnya. Yakni, adanya niat pelaku dan kesempatan. ”Mereka kurang mendapat pengawasan,” sebut peraih Adhi Makayasa atau lulusan terbaik Akpol 2015 tersebut.

Kejadian memprihatinkan itu sejatinya bisa diantisipasi oleh keluarga. Di antaranya, dengan memantau keseharian anak. ”Bisa dicegah sejak awal. Di antaranya, memisah kamar karena mereka sudah remaja. Bukan anak-anak lagi,” paparnya.

Bagi dia, menjadi polisi yang mengurus perkara asusila termasuk pengalaman baru. Sebab, tugas sebelumnya kebanyakan berfokus pada kejahatan jalanan. Misalnya, unit jatanras dan resmob. ”Menambah pengalaman yang pasti,” ungkap sulung dua bersaudara tersebut.

Fauzi belum lama bertugas di Surabaya. Dia menjadi perwira polrestabes sejak bulan lalu. Masa tugas sebelumnya banyak dihabiskan di Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Selatan sejak lulus dari Akpol. ”Ditempatkan di mana pun pada prinsipnya harus siap,” tuturnya.

Menurut pria kelahiran Bandung itu, menjadi polisi sejatinya tidak pernah tebersit di dalam pikiran. Latar belakang keluarganya bukan anggota Korps Bhayangkara. Ayahnya adalah pelatih bulu tangkis. Ibunya pegawai dinas kesehatan di Subang.

Kondisi itu pulalah yang sempat memengaruhi cita-citanya ketika remaja. Fauzi ingin menjadi atlet bulu tangkis atau dokter. ”Dulu sudah beberapa kali ikut kejuaraan bulu tangkis,” ungkap alumnus SMPN 1 Purwakarta tersebut. Namun, jalan hidupnya berubah saat salah seorang temannya ingin ikut pendaftaran SMA Taruna Nusantara.

Fauzi saat itu diminta menemani ke Bandung yang menjadi tempat pendaftaran di Jabar. Dia pun iseng dengan ikut mendaftar. ”Daripada tidak ngapa-ngapain juga di sana,” katanya. Hasil tes yang dijalani ternyata mengejutkan. Fauzi diterima, temannya yang niat sejak awal malah tersingkir.

Gayung bersambut, orang tua merestuinya untuk menempuh pendidikan di Magelang. Di SMA Taruna Nusantara itulah niatnya menjadi anggota Korps Bhayangkara mulai terpupuk. ”Lulus SMA langsung daftar ke Akpol,” jelasnya. Tidak dinyana, jalan pilihannya membuahkan prestasi tinggi. Fauzi tidak hanya langsung lulus pada seleksi pertama yang diikuti. Namun, dia juga selalu mendapat ranking pertama pada setiap ujian naik tingkat di Akpol.

Moncernya nilai akademis itu tidak hanya dibukukan di Akpol. Fauzi juga membuktikannya saat kuliah di tempat umum. Dia tercatat sebagai lulusan S-2 dari dua universitas yang berbeda. Yakni, Jurusan Magister Sains Universitas Indonesia (UI) dan Jurusan Magister Sains Kriminologi Universitas Glasgow, Skotlandia.

Fauzi mengatakan, raihan prestasi itu bukan tanpa usaha. Dia mengaku harus pintar-pintar membagi pikiran antara tugas di kepolisian dan kuliah. ”Tidak ada yang mustahil kalau mau berusaha,” tegasnya.

 

Related post

0 komentar

  • No Comment

Tinggalkan komentar

Top